HEALTH CENTER

Forums Discussion

Medication Post New Entry

OBAT HIPERTENSI 2

Posted by Doktor on July 5, 2011 at 10:44 PM
DELLASIDREX

CODE: S12

Harga Per Satuan Terkecil : Rp2,200.00 Harga Per Satuan Terkecil: Rp0.00

Harga Tersebut diatas Tidak Mengikat, Sewaktu-Waktu Dapat Berubah Tanpa Pemberitahuan Terlebih Dahulu

DELLASIDREX®




KOMPOSISI :

Tiap dragee mengandung :

Reserpin 0,1 mg
Dihidralazin Sulfat 10 mg
Hidroklorotiazid 10 mg


FARMAKOLOGI :

Dellasidrex preparat anti hipertensi yang dapat menurunkan tekanan darah secara bertahap dan ditolerir dengan baik oleh tubuh. Dengan tiga komponen yang terkandung didalamnya, yang berbeda-beda cara terjanya DeKrex® langsung berpengaruh pada berbagai faktor yang menyebabkan Sadarnya kenaikan tekanan darah Efek sedasi yang dimiliki oleh reserpin sangat membantu mengurangi pengaruh lingkungan yang menyebabkan ketegangan. Dengan begitu bahaya terhadap sistem kardiovaskular dapat dihindari. Dihidralazin disamping, menurunkan tekanan darah melalui efek vasodilator juga akan memperbaiki aliran darah ke ginjal dan otak seningga resiko tekurangan darah pada otak dan ginjal akan banyak dikurang.

Hidroklorotiazid yang memiliki efek diuretik yang nyata sangat membantu nellasidrex® sanqgat sesuai untuk segala tingkat hipertensi. Pengobatan yang lebih awal dengan Dellasidrex® dilakukan secara teratur bisa mencegah kerusakan organ-organ vital seperti, jantung, ginjal dan otak.


INDIKASI :

Semua tingkat dari hipertensi esensial atau hipertensi yang disebabkan karena gangguan ginjal.


ATURAN PAKAI :

1 tablet 2-3 kali sehari sebaiknya diminum sesudah makan, bila perlu bisa dinaikkan sesuai dengan kasusnya.


PERINGATAN DAN PERHATIAN :

1.
Tidak dianjurkan pada pasien dengan tukak lambung,karena reserpin pada dosis tinggi dapat merangsang sekresi asam lambung.
2.
Pada pengobatan jangka panjang dengan duretik,suatu diet dengan makanan banyak mengandung kalium (diet buah-buahan)dianjurkan untuk mencegah kemungkinan terjadinya hipokalemia



EFEK SAMPING :

Pada Permulaan pengobatan,kadang-kadang timbul efek samping yang ringan seperti sumbatan hidung, gangguan lambung, perasaan lelah dan mengantuk.


KONTR INDIKASI :

-   Gangguan fungsi hepar yang berat
Gangguan fungsi ginjal yang berat


HARUS DENGAN RESEP DOKTER
Simpan ditempat sejuk dan kering


KEMASAN :

Kotakisi 10 strip© 10 dragee
Reg No. :DKL9804512916A1


Diproduksi oleh

PT.Prafa

Untuk

Darya-Vana
LABORATORIA
Gunung Putri, Bogor-lndonesia

 

DEXACAP 12.5 mg

CODE: S13

Harga Per Satuan Terkecil : Rp300.00 Harga Per Satuan Terkecil: Rp0.00

Harga Tersebut diatas Tidak Mengikat, Sewaktu-Waktu Dapat Berubah Tanpa Pemberitahuan Terlebih Dahulu

DEXACAP®
Tablet

 


Komposisi :

DEXACAP® 12,5 mg
Tiap tablet mengandung: Captopril 12,5 mg
DEXACAP* 25 mg
Tiap tablet mengandung: Captopril 25 mg
DEXACAP* 50 mg
Tiap tablet mengandung: Captopril 50 mg


Farmakologi :

DEXACAP terutama bekerja pada sistem RAA (Renin-Angiotensin-Aldosteron),sehingga efektif pada hipertensi dengan PRA (Plasma Reran Activity) yang tinggi yaitu pada kebanyakan hipertensi maligna, hipertensi renovaskular dan pada kira-kira 1/6 - 1/5 hipertensi essensial.
DEXACAP* juga efektif pada hipertensi dengan PRA yang normal, bahkan juga pada hipertensi yang PRA rendah. Obat ini juga merupakan antihipertensi yang efektif untuk pengobatan gagal jantung dengan terapi kombinasi lain.Kombinasi dengan tiazid memberikan efek aditif sedangkan kombinasi dengan fi-bloker memberikan efek yang kurang aditif.


Indikasi :     

Untuk pengobatan hipertensi sedang dan berat yang tidak dapat diatasi dengan pengobatan kombinasi lain. DEXACAP* dapat dipergunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan obat antihipertensi lain terutama tiazid.
Payah jantung yang tidak cukup responsif atau tidak dapat dikontrol dengan diuretik dan digitalis.

                                                
Kontraindikasi :

Hipersensitif terhadap captopril dan obat-obat ACE inhibitor lamnya.


Dosis :

Dewasa :

Hipertensi : Dosis awal adalah 12,5 mg-25 mg, 2-3 kali sehan.
Bila setelah 2 minggu belum diperoleh penurunan tekanan darah, maka dosis dapat ditingkatkan sampai 50 mg, 2-3 kali sehari.
Gagal jantung : Dosis awal adalah 25 mg 3 kali sehari, sebaiknya dimulai dengan 12,5 mg, 3 kali sehari.


Efek samping :

Umumnya DEXACAP* dapat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang dapat timbul adalah ruam kulit, gangguan pengecapan, neutropema,proteinuria, sakit kepala, lelah/letih dan hipotensi. Efek samping ini bersifat dose related dengan pemberian dosis DEXACAP  kurang dari 150 mg per hari efek samping ini dapat dikurangi tanpa mengurangi khasiatnya. Efek samping lain yang pernah dilaporkan : umumnya asthenia, gynecomastia.
Kardiovaskular : cardiac arrest, cerebrovascular accident/insufficiency, rhythm disturbances,
orthostatic hipotension, syncope.
Dermatologi: bullous pemphigus, erythema multiforme exfoliative dermatitis.
Gastrointestinal: pankreatitis, glossitis, dispepsia.
Hepatobiliary: jaundice, hepatitis, kadang-kadang nekrosis, cholestasis.
Metabolic: symptomatic hyponatremia.
Musculoskeletal: myalgia, myasthenia.
Nervous/psychiatric: ataxia, confusion, depression, nervousness, somnolence.
Respiratory: bronchospasm, eosinophilic pneumonitis, rhinitis, blurred vision, impotence.
Seperti ACE inhibitor lainnya dapat menyebabkan sindroma termasuk: myalgia,
arthralgia, interstitial nephritis, vasoulitis, peningkatan ESR.



Peringatan dan perhatian :

1. Neutropenia/agranulositosis:
Neutropenia akibat pemberian DEXACAP® Qumlah neutrofil kurang dan1000/mm) 2 kali berturut-turut, bertahan selama obat diteruskan, insidensinya 0,02% (1/4544) pada penderita dengan fungsi ginjal yang normal, meningkat menjadi 0,5% (5/997) pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal (kreatinin serum >2 mg/dl), dan menjadi 7,2% (8/111) pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal dan penyakit vaskular kolagen seperti lupus (SLE) atau skleroderma.
Neutropenia muncul dalam 12 minggu pertama pengobatan, dan reversibel bila pengobatan dihentikan (90% penderita dalam 3 minggu) atau dosisnya diturunkan. Pada penderita-penderita dengan gangguan fungsi ginjal dan juga penderita yang mendapat obat-obat lain yang diketahui dapat menurunkan lekosit (obat-obat 1 sitotoksik imunosupresan, fenilbutazon dan Iain-Iain), hams dilakukan hitung lekosit
sebelum pengobatan setiap 2 minggu selama 3 bulan pertama pengobatan dan periodik setelah itu.
Mereka juga hams diberi tahu agar segera melapor kepada dokternya bila mengalami tanda-tanda infeksi akut (faringitis, demam), karena mungkin merupakan petunjuk adanya neutropenia.
2. Proteinuria/sindroma nefrotik:
Proteinuria yang lebih dari 1 g sehari terjadi pada 1,2% (70/5769) penderita hipertensi yang diobati dengan captopril.
Diantaranya penderita tanpa penyakit ginjal/proteinuria sebelum pengobatan, insidensinya hanya 0,5% (19/3573) yakni 0,2% pada dosis captopril <150 mg sehari dan 1% pada dosis captopril >150 mg sehari. Pada penderita dengan penyakit ginjal/proteinuria sebelum pengobatan, insidensinya meningkat menjadi 2,1% (46/2196), yakni 1% pada dosis captopri/>150 mg sehari. Sindroma nefrotik terjadi kira-kira 1/5 (7/34) penderita dengan proteinuria.
Data mengenai insiden proteinuria pada penderita GJK belum ada. Glumerulopati membran ditemukan pada biopsi tetapi belum tentu disebabkan oleh captopril karena glumerulonefritis yang subklinik juga ditemukan pada penderita hipertensi yang tidak mendapat captopril. Proteinuria yang terjadi pada penderita tanpa penyakit ginjal sebelumnya pengobatan tidak disertai dengan gangguan fungsi ginjal. Proteinuria biasanya muncul setelah 3-9 bulan pengobatan (range 4 hari 22 bulan). Pada sebagian lagi, proteinuria menetap meskipun obat dihentikan. Oleh karena itu pada penderita dengan risiko tinggi, perlu dilakukan pemeriksaan protein dalam urin sebelum pengobatan, sebulan sekali selama 9 bulan pertama pengobatan dan periodik setelah itu.
3. Gagal ginjal/akut:
Fungsi ginjal dapat memburuk akibat pemberian captopril pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal sebelum pengobatan. Gejala ini muncul dalam beberapa hari pengobatan; yang ringan (kebanyakan kasus) reversibel atau stabil meski pengobatan diteruskan, sedangkan pada yang berat dan progresif, obat harus dihentikan. Gejala ini akibat berkurangnya tekanan perfusi ginjal oleh captopril, dan karena captopril menghambat sintesisA II intrarenal yang diperlukan untuk konstriksi arteriol eferen ginjal guna mempertahankan filtrasi glomerulus pada stenosis arteri ginjal. Gagal ginjal yang akut dan progresif terutama terjadi pada penderita dengan stenosis arteri tinggi tersebut, pemberian captopril harus disertai dengan monitoring fungsi ginjal tunggal (3/8). Karena itu pada penderita dengan risiko tinggi tersebut, pemberian captopril harus disertai dengan monitoring fungsi ginjal (kreatinin serum dan BUN), dan dosis captopril dimulai serendah mungkin. Bila terjadi azotemia yang progresif,' captopril harus dihentikan dan gejala ini reversibel dalam 7 hari.
4. Morbiditas dan Mortilitas pada Fetus dan Neonatus:
Pemakaian obat penghambat ACE pada kehamilan dapat menyebabkan gangguan/kelainan organ pada fetus atau neonatus. Apabila pada pemakaian obat ini ternyata wanita itu hamil, maka pemberian obat harus dihentikan dengan segera. Pada kehamilan trimester II dan III dapat menimbulkan gangguan antara lain: hipotensi, hipoplasia-tengkorak neonatus, anuria, gagal ginjal reversibel atau irreversibel dan kematian.
Juga dapat terjadi oligohidramnion, deformasi kraniofasial, perkembangan paru hipoplasi, kelahiran prematur, perkembangan retardasi-intrauteri, patenduktus arteriosus.
Bayi dengan riwayat dimana selama didalam kandungan ibunya mendapat pengobatan penghambat ACE, harus diobservasi intensif tentang kemungkinan terjadinya hipotensi, oliguria dan hiperkaiemia.



Interaksi obat :

Pemberian obat diuretik hemat kalium (spironolakton-triamteren, anulona) dan preparat kalium harus dilakukan dengan hati-hati karena adanya bahaya hiperkaiemia.
Penghambat enzim siklooksigenase seperti indometasin, dapat menghambat efek captopril.
Disfungsi neurologik pernah dilaporkan terjadi pada pasien yang diberi captopril dan simetidin.
Kombinasi DEXACAP" dengan allopurinol tidak dianjurkan, terutama gagal ginjal kronik.


Kemasan dan nomor registrasi : 

DEXACAP® 12,5 mg: Kotak berisi 10 strip @ 6 tablet, DKL930S005310C1
DEXACAP* 25 mg : Kotak berisi 10 strip @ 6 tablet, DKL9105005310A1
DEXACAP* 50 mg : Kotak berisi 10 strip @ 6 tablet, DKL9105005310B1


HARUS DENGAN RESEP DOKTER.
SIMPAN PADA SUHU Dl BAWAH 30°C, TERLINDUNG DARI CAHAYA.



Dibuat oleh :

JL. BAMBANGUTOY0 138
PALEMBANG-INDONESIA

 

DEXACAP 25 mg

CODE: S14

Harga Per Satuan Terkecil : Rp450.00 Harga Per Satuan Terkecil: Rp0.00

Harga Tersebut diatas Tidak Mengikat, Sewaktu-Waktu Dapat Berubah Tanpa Pemberitahuan Terlebih Dahulu

DEXACAP® 25 mg
Tablet




Komposisi :

DEXACAP® 12,5 mg  
Tiap tablet mengandung : Captopril           12,5 mg
DEXACAP* 25 mg  
Tiap tablet mengandung : Captopril              25 mg
DEXACAP* 50 mg  
Tiap tablet mengandung : Captopril              50 mg

 

Farmakologi :

DEXACAP terutama bekerja pada sistem RAA (Renin-Angiotensin-Aldosteron),sehingga efektif pada hipertensi dengan PRA (Plasma Reran Activity) yang tinggi yaitu pada kebanyakan hipertensi maligna, hipertensi renovaskular dan pada kira-kira 1/6 - 1/5 hipertensi essensial.
DEXACAP* juga efektif pada hipertensi dengan PRA yang normal, bahkan juga pada hipertensi yang PRA rendah. Obat ini juga merupakan antihipertensi yang efektif untuk pengobatan gagal jantung dengan terapi kombinasi lain.Kombinasi dengan tiazid memberikan efek aditif sedangkan kombinasi dengan fi-bloker
memberikan efek yang kurang aditif.


Indikasi:
           

- Untuk pengobatan hipertensi sedang dan berat yang tidak dapat diatasi dengan pengobatan kombinasi lain.
  DEXACAP* dapat dipergunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan obat antihipertensi lain terutama tiazid.
-   Payah jantung yang tidak cukup responsif atau tidak dapat dikontrol dengan diuretik dan digitalis.

 

Kontraindikasi :

Hipersensitif terhadap captopril dan obat-obat ACE inhibitor lamnya.


Dosis :

Dewasa:  
Hipertensi : Dosis awal adalah 12,5 mg-25 mg, 2-3 kali sehan.
  Bila setelah 2 minggu belum diperoleh penurunan tekanan darah, maka dosis dapat ditingkatkan sampai 50 mg, 2-3 kali sehari.
Gagal jantung : Dosis awal adalah 25 mg 3 kali sehari, sebaiknya dimulai dengan 12,5 mg, 3 kali sehari.

 

Efek samping :

Umumnya DEXACAP* dapat ditoleransi dengan balk.
Efek samping yang dapat timbul adalah ruam kulit, gangguan pengecapan, neutropema,proteinuria, sakit kepala, lelah/letih dan hipotensi.
Efek samping ini bersifat dose related dengan pemberian dosis DEXACAP  kurang dari 150 mg per hari efek samping ini dapat dikurangi tanpa mengurangi khasiatnya.

Efek samping lain yang pernah dilaporkan : umumnya asthenia, gynecomastia.

Kardiovaskular: cardiac arrest, cerebrovascular accident/insufficiency, rhythm disturbances,
orthostatic hipotension, syncope.

Dermatologi: bullous pemphigus, erythema multiforme exfoliative dermatitis.

Gastrointestinal: pankreatitis, glossitis, dispepsia.
Hepatobiliary: jaundice, hepatitis, kadang-kadang nekrosis, cholestasis.

Metabolic: symptomatic hyponatremia.
Musculoskeletal: myalgia, myasthenia.
Nervous/psychiatric: ataxia, confusion, depression, nervousness, somnolence.
Respiratory: bronchospasm, eosinophilic pneumonitis, rhinitis, blurred vision, impotence.
Seperti ACE inhibitor lainnya dapat menyebabkan sindroma termasuk: myalgia,
arthralgia, interstitial nephritis, vasoulitis, peningkatan ESR.


Peringatan dan perhatian :

1. Neutropenia/agranulositosis :

Neutropenia akibat pemberian DEXACAP® Qumlah neutrofil kurang dan1000/mm) 2 kali berturut-turut, bertahan selama obat diteruskan, insidensinya 0,02% (1/4544) pada penderita dengan fungsi ginjal yang normal, meningkat menjadi 0,5% (5/997) pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal (kreatinin serum >2 mg/dl), dan menjadi 7,2% (8/111) pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal dan penyakit vaskular kolagen seperti lupus (SLE) atau skleroderma.

Neutropenia muncul dalam 12 minggu pertama pengobatan, dan reversibel bila pengobatan dihentikan (90% penderita dalam 3 minggu) atau dosisnya diturunkan. Pada penderita-penderita dengan gangguan fungsi ginjal dan juga penderita yang mendapat obat-obat lain yang diketahui dapat menurunkan lekosit (obat-obat 1 sitotoksik imunosupresan, fenilbutazon dan Iain-Iain), hams dilakukan hitung lekosit
sebelum pengobatan setiap 2 minggu selama 3 bulan pertama pengobatan dan periodik setelah itu.
Mereka juga hams diberi tahu agar segera melapor kepada dokternya bila mengalami tanda-tanda infeksi akut (faringitis, demam), karena mungkin merupakan petunjuk adanya neutropenia.

2. Proteinuria/sindroma nefrotik :

Proteinuria yang lebih dari 1 g sehari terjadi pada 1,2% (70/5769) penderita hipertensi yang diobati dengan captopril.
Diantaranya penderita tanpa penyakit ginjal/proteinuria sebelum pengobatan, insidensinya hanya 0,5% (19/3573) yakni 0,2% pada dosis captopril <150 mg sehari dan 1% pada dosis captopril >150 mg sehari. Pada penderita dengan penyakit ginjal/proteinuria sebelum pengobatan, insidensinya meningkat menjadi 2,1% (46/2196), yakni 1% pada dosis captopri/>150 mg sehari. Sindroma nefrotik terjadi kira-kira 1/5 (7/34) penderita dengan proteinuria.

Data mengenai insiden proteinuria pada penderita GJK belum ada. Glumerulopati membran ditemukan pada biopsi tetapi belum tentu disebabkan oleh captopril karena glumerulonefritis yang subklinik juga ditemukan pada penderita hipertensi yang tidak mendapat captopril. Proteinuria yang terjadi pada penderita tanpa penyakit ginjal sebelumnya pengobatan tidak disertai dengan gangguan fungsi ginjal. Proteinuria biasanya muncul setelah 3-9 bulan pengobatan (range 4 hari 22 bulan). Pada sebagian lagi, proteinuria menetap meskipun obat dihentikan. Oleh karena itu pada penderita dengan risiko tinggi, perlu dilakukan pemeriksaan protein dalam urin sebelum pengobatan, sebulan sekali selama 9 bulan pertama pengobatan dan periodik setelah itu.

3.  Gagal ginjal/akut :

Fungsi ginjal dapat memburuk akibat pemberian captopril pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal sebelum pengobatan. Gejala ini muncul dalam beberapa hari pengobatan; yang ringan (kebanyakan kasus) reversibel atau stabil meski pengobatan diteruskan, sedangkan pada yang berat dan progresif, obat harus dihentikan. Gejala ini akibat berkurangnya tekanan perfusi ginjal oleh captopril, dan karena captopril menghambat sintesisA II intrarenal yang diperlukan untuk konstriksi arteriol eferen ginjal guna mempertahankan filtrasi glomerulus pada stenosis arteri ginjal. Gagal ginjal yang akut dan progresif terutama terjadi pada penderita dengan stenosis arteri tinggi tersebut, pemberian captopril harus disertai dengan monitoring fungsi ginjal tunggal (3/8). Karena itu pada penderita dengan risiko tinggi tersebut, pemberian captopril harus disertai dengan monitoring fungsi ginjal (kreatinin serum dan BUN), dan dosis captopril dimulai serendah mungkin. Bila terjadi azotemia yang progresif,' captopril harus dihentikan dan gejala ini reversibel dalam 7 hari.

4.  Morbiditas dan Mortilitas pada Fetus dan Neonatus :

Pemakaian obat penghambat ACE pada kehamilan dapat menyebabkan gangguan/kelainan organ pada fetus atau neonatus. Apabila pada pemakaian obat ini ternyata wanita itu hamil, maka pemberian obat harus dihentikan dengan segera. Pada kehamilan trimester II dan III dapat menimbulkan gangguan antara lain: hipotensi, hipoplasia-tengkorak neonatus, anuria, gagal ginjal reversibel atau irreversibel dan kematian.
Juga dapat terjadi oligohidramnion, deformasi kraniofasial, perkembangan paru hipoplasi, kelahiran prematur, perkembangan retardasi-intrauteri, patenduktus arteriosus.

Bayi dengan riwayat dimana selama didalam kandungan ibunya mendapat pengobatan penghambat ACE, harus diobservasi intensif tentang kemungkinan terjadinya hipotensi, oliguria dan hiperkaiemia.


Interaksi obat :

-   Pemberian obat diuretik hemat kalium (spironolakton-triamteren, anulona) dan preparat kalium harus dilakukan dengan hati-hati karena adanya bahaya hiperkaiemia.
- Penghambat enzim siklooksigenase seperti indometasin, dapat menghambat efek captopril.
-    Disfungsi neurologik pernah dilaporkan terjadi pada pasien yang diberi captopril dan simetidin.
Kombinasi DEXACAP" dengan allopurinol tidak dianjurkan, terutama gagal ginjal kronik.



Kemasan dan nomor registrasi : 
                                

DEXACAP® 12,5 mg : Kotak berisi 10 strip @ 6 tablet, DKL930S005310C1
DEXACAP* 25 mg : Kotak berisi 10 strip @ 6 tablet, DKL9105005310A1
DEXACAP* 50 mg : Kotak berisi 10 strip @ 6 tablet, DKL9105005310B1


HARUS DENGAN RESEP DOKTER.
SIMPAN PADA SUHU Dl BAWAH 30°C, TERLINDUNG DARI CAHAYA.


Dibuat oleh:
JL. BAMBANGUTOY0 138
PALEMBANG-INDONESIA

 

DILMEN

CODE: S15

Harga Per Satuan Terkecil : Rp1,100.00 Harga Per Satuan Terkecil: Rp0.00

Harga Tersebut diatas Tidak Mengikat, Sewaktu-Waktu Dapat Berubah Tanpa Pemberitahuan Terlebih Dahulu

DILMEN
Tablet


Tiap tablet mengandung:


Diltiazem Hidroklorida ........................ 60 mg


FARMAKOLOGI :



DILMEN® adalah antagonis kalsium yang dapat meningkatkan aliran darah ke jantung dan secara simultan menurunkan resistensi perifer sehingga konsumsi oksigen otot jantung menurun. Dengan demikian akan meningkatkan kemampuan kerja jantung, menurunkan frekuensi serangan angina dan menurunkan tekanan darah sistemik.


INDIKASI :



DILMEN® diindikasikan untuk hipertensi.
Dapat digunakan tunggal atau kombinasi dengan obat antihipertensi lainnya, seperti diuretik.


KONTRA- INDIKASI :

- Hipersensitivitas.
- Hipotensi {tekanan sistolik kurang dari 90 mmHg), gagal jantung kongestif, sindroma "atrium node", gangguan konduksi (hambatan-sino-atrial, hambatan atrioventrikular derajat II atau III), bradikardia (denyut nadi kurang dari 50/menit).
- DILMEN® sebaiknya tidak diberikan selama kehamilan dan menyusui. Pada wanita usia subar harus dipastfkan-tidak adanya kehamilan sebelum memulai pengobatan, dan selama pengobatan harus menggunakan kontrasepsi dengan metoda atau alat yang terpercaya.
- Penderita dengan "sick sinus syndrome kecuali bila memakai alat pacu jantung ventrikular.


 


EFEK SAMPING :

- Efek samping yang umumnya terjadi adalah: Sinus bradikardia, blokade sino-atrial, ruam kulit dengan atau tanpa gatal-gatal, oedema pada anggota badan bagian bawah, dan pengobatan harus dihentikan.
- Efek samping lain yang lebih jarang dan bersifat sementara adalah: astenia, ngantuk, sakit kepala, sukar tidur, gangguan saluran cerna seperti mual, sakit ulu hati, mulut kering, konsti-pasi, diare, anoreksia dan pirosis.
- Jarang ditemukan peningkatan enzim hepar (SGOT, SGPT).
- Pernah dilaporkan: flushing dan akathisia.

 


PERHATIAN :

- Pada penderita dengan gangguan hepar, disarankan untuk memeriksakan fungsi hepar secara berkala selama pengobatan.
- DILMEN® menghambat sistem konduksi stimulus terutama konduksi atrioventrikular, sehingga pemberian bersama obat-obat penekan fungsi jantung dan atau penghambat penghantaran stimulus misalnya obat-obat penghambat beta adrenergik, anti aritmia atau digitalis dapat meningkatkan kerjanya. Efek tambahan tersebut di atas harus mendapat perhatian khusus.
- Pemberian bersama-sama trinitrin atau nitrat "long-acting" bukan merupakan kontra-indikasi, kombinasi OILMEN" dengan nitrat dapat memperkuat kerjanya.
- Tidak ditemukan inkompatibilitas dalam pemberian ber-sama antikoagulan, diuretik dan antidiabetik oral.
- Hati-hati bila diberikan pada penderita dengan bradikardia berat (denyut nadi kurang dari 50/menit) atau hambatan atrioventri-kular tingkat I.
- Dosis perlu diturunkan pada penderita gangguan fungsi ginjal.
- Keamanan pemakaian pada anak-anak belum diketahui dengan pasti.
- Tidak dianjurkan pemberian pada wanita menyusui, karena Diltiazem diekskresikan ke dalam air susu ibu. Bila pemberian DILMEN® sangat diperlukan, maka menyusui harus di-hentikan.

 

INTERAKSI OBAT :

- Diltiazem dapat meningkatkan kadar plasma karbamazepin sehingga dapat menyebabkan timbulnya gejala-gejala toksik oleh karbamazepin seperti: ngantuk, muai, muntah, vertigo dan Iain-lain.
- Anestetik:
Pengurangan kontraktilitas, konduktivitas dan otomatisasi jantung serta dilatasi vaskular yang diakibatkan oleh anestesi, dapat mengalami potensiasi dengan pemberian Diltiazem.
- Simetidin dapat menaikkan kadar puncak Diltiazem dalam plasma, juga dapat menurunkan bersihan kreatinin Diltiazem.
- Amiodaron sebagai antiaritmia. Dapat terjadi gejala yang menyerupai bradikardia atau henti sinus jika Diltiazem diberikan kepada pasien yang sedang diobati dengan amiodaron.
- Diltiazem dapat meningkatkan konsentrasi plasma siklosporin dan teolilin.



  

DOSIS :



Sehari 3 x 1 tablet. Dosis dapat dinaikkan atau diturunkan secara bertahap tergantung pada berat ringannya penyakit. Dosis dapat dinaikkan sampai 360 mg sehari terbagi dalam 3 dosis. Diltiazem HCI mempunyai efek antihipertensi aditif bila digunakan bersamaan dengan obat antihipertensi lainnya. Oleh karena itu dosis DILMEN* atau obat antihipertensi lainnya perlu disesuai-kan bila digunakan bersama-sama.


HARUS DENGAN RESEP DOKTER



KEMASAN :


Dus isi 10 strip @ 10 tablet. No. Reg.: DKL9222212410A1


PENYIMPANAN :



Simpan di tempat sejuk dan kering.

A. MENARINI - ITALI
Dibuat dengan lisensi
oleh PT SANBE FARMA
Bandung - Indonesia  

 

DILTIAZEM

CODE: S16

Harga Per Satuan Terkecil : Rp200.00 Harga Per Satuan Terkecil: Rp0.00

Harga Tersebut diatas Tidak Mengikat, Sewaktu-Waktu Dapat Berubah Tanpa Pemberitahuan Terlebih Dahulu

Diltiazem



Komposisi :


Tiap tablet mengandung diltiazem hidroklorida 30 mg.


Cara Kerja Obat :


Diltiazem adalah derivate benzodiazepin yang merupakan prototip dari antagonis kalsium. Mekanisme kerja senyawa ini adalah mendepresi fungsi nodus SA dan AV, juga vasodilatasi arteri dan arteriol koroner serta perifer. Dengan demikian maka diltiazem akan menurunkan denyut jantung dan kontraktiiitas otot jantung, sehingga terjadi keseimbangan antara persediaan dan pemakaian oksigen pada iskhemik jantung.
Diltiazem efektif terhadap angina yang disebabkan oieh vasospasme koroner maupun aterosklerosis koroner. Pemberian 'diltiazem akan mengurangi frekuensi serangan angina dan menurunkan kebutuhan pemakaian obat nitrogliserin.
Pada pemberian dengan oral diltiazem diabsorpsi kira-kira 80 - 90% dan berikatan dengan protein plasma. Efek mulai tampak kurang dari 30 menit setelah pemberian dan konsentrasi puncak dalam plasma tercapai setelah 2 jam dengan waktu paruh 4 jam. Senyawa ini diekskresi dalam bentuk metabolit melaiui urin (35%) dan feses (60%).


Indikasi :


Untuk angina pectoris, menurunkan serangan angina pada penderita variant angina.


Dosis :


Dewasa : 4 x 30 mg sehari, bila perlu dapat ditingkatkan sampai 360 mg sehari, diberikan sebelum makan dan waktu hendak tidur.


Peringatan dan Perhatian :

- Pemberian diltiazem tidak boleh dikombinasi dengan beta-bloker ataudigoxin.
- Hati-hati bila diberikan pada penderita dengan bradikardia berat (dibawah 50 denyut/menit) atau hambatan atrioventrikular tingkat 1.
- Bila pengobatan dengan diltiazem hendak dihentikan, dosis hams diturunkan secara bertahap dan gejala-gejala yang mungkin timbul diawasi secara teliti.



Penderita diperingatkan untuk tidak menghentikan  pengobatan tanpa petunjuk dokter.

- Hati-hati bila diberikan pada penderita payah jantung kongestif.
- Penurunan tekanan darah sehubungan pengobatan dengan diltiazem kadang-kadang dapat menimbulkan hipotensi simptomatik,
- Keamanan pemakaian pada anak-anak belum diketahui dengan pasti.
- Hati-hati bila diberikan pada wanita menyusui



Efek Samping :

Jarang terjadi, hanya 2 - 10% pasien yang mengalami nyeri kepala, pusing, gangguan saluran cerna dan bradikardia.
Kadang-kadang menaikkan tingkat GOT, GPT dan fosfatase alkalin.
Hipersensitif : erupsi, eritema multiforme (dalam kasus demikian pengobatan harus dihentikan).
Pernah dilaporkan : rash, pruritus



 Kontra indikasi :

Blok AV tingkat 2 - 3,* hipotensi (tekanan sistole kurang dari 90 mmHg) dan syok kardiogenik.
Pasien dengan gejala gangguan irama sinus, kecuali bila ada alat pacu jantung ventrikuler yang berfungsi.
Wanita hamil, wanita yang diduga usia subur.
Penderita yang hipersensitif terhadap diltiazem.
Penderita dengan infark miokardiai aKut dan kongasti paru-paru yang dibuktikan dengan sinar X.


Interaksi Obat :

- Dengan preparat digoxin : dapatmenaikkan tingkat plasma digoxin.
- Dengan obat penghambat beta : dapat terjadi bradikardia, sinus berat, hipotensi, gagal jantung kongestif dan meningkatkan resiko penghambat AV.
- Obat antihipertensi; dapat meningkatkan efek obat antihipertensi.
- Carbamazepine : dapat menaikkan tingkat plasma carba maze pine yang, menyebabkan timbulnya gejala-gejala toksik oieh carbamazepine.
- Anestetik : dapat terjadi potensiasi penurunan kontraktilitas, konduktifitas dan otomatisitas jantung seperti dilatasi vaskuler

.


Cara Penyimpanan :


Simpan pada suhu kamar (di bawah 30°C) dan tempat kering.

Kemasan dan Nomor Registrasi :
Diltiazem 30 mg tablet, kotak 10 strip @ 10 tablet
No. Reg. GKL8920908310A1     
                                 
HARUS DENGAN RESEP DOKTER

INDOFARMA BEKASI - INDONESIA

 

DIOVAN 160mg

CODE: S22

Harga Per Satuan Terkecil : Rp15,900.00 Harga Per Satuan Terkecil: Rp0.00

Harga Tersebut diatas Tidak Mengikat, Sewaktu-Waktu Dapat Berubah Tanpa Pemberitahuan Terlebih Dahulu

DIOVAN 160 Mg



GENERIK


Valsartan.


INDIKASI


Hipertensi.


KONTRA INDIKASI

Wanita hamil, kerusakan hati, sirosis, penyumbatan kandung empedu.


PERHATIAN


Pasien yang kehilangan volume atau sodium darah, stenosis arteri renalis, gangguan fungsi ginjal berat, sumbatan saluran empedu.
Bisa mempengaruhi kemampuan untuk mengemudi atau mengoperasikan mesin.


EFEK SAMPING


Sakit kepala, pusing, infeksi virus, infeksi saluran pernapasan bagian atas, batuk, diare, lemah, rinitis, sinusitis, nyeri punggung, nyeri pada perut, mual, faringitis, nyeri sendi.


KEMASAN


Kapsul 160 mg x 2 x 14 biji.


DOSIS


80 mg sekali sehari, dapat ditingkatkan sampai 160 mg/hari atau dapat ditambahkan diuretik jika tekanan darah tidak cukup terkontrol.

 

Categories: HIPERTENSI

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments

Clock